Judul Halaman Saya

 

Oleh : Dessy Mahasiswa PKM PG PAUD Universitas Negeri Jakarta

Saya Dessy, mahasiswa semester 7, jurusan PG.PAUD UNJ yang telah melaksanakan Praktek Keterampilan Mengajar (PKM) di TKIT Ibnu Sina selama satu setengah bulan. Banyak yang saya rasakan selama menjalani latihan mengajar, berikut beberapa poin penting:

 

1.Rekan guru yang bersifat terbuka untuk meng-upgrade ilmu

   Walaupun saya adalah mahasiswa yang diharuskan menggali ilmu dari pihak sekolah selama PKM, akan tetapi guru-guru di TKIT Ibnu Sina sangat bersifat terbuka terhadap saran atau sharing ilmu baru yang datangnya dari mahasiswa. Ini merupakan tantangan bagi setiap profesi guru, karena biasanya citra buruk dari guru adalah malasnya meng-upgrade ilmu. Semakin lama pengalamannya menjadi seorang guru, maka cenderung semakin sulit diberi masukan yang datangnya dari rekan guru yang masih baru, karena dianggap tidak memiliki pengalaman sebanyak mereka atau kata lainnya “guru kolot”. Padahal ilmu pengetahuan harus terus diperbarui seiring berjalannya waktu. Yang saya rasakan semua guru di TKIT Ibnu Sina adalah guru yang haus akan ilmu, tidak pernah marah ketika dikritik, senang meminta sekaligus memberi saran. Yang terpenting, saya bisa rasakan dan berani jamin guru di TKIT Ibnu Sina mengajar dengan hati.

 

2.Suasana kekeluargaan yang tercipta

   Saya menjalani praktek mengajar di TKIT Ibnu Sina sekitar satu setengah bulan, namun sudah merasakan rasa nyaman dengan murid, rekan guru, rekan perangkat sekolah, dan orang tua murid. Alhamdulillah merupakan paket lengkap, karena biasanya rasa nyaman hanya didapatkan dari murid atau guru saja, akan tetapi kali ini saya mendapat dari banyak pihak. Tidak pernah saya lihat di sekolah lain hubungan orang tua murid se-begitu dekatnya dengan guru. Perkumpulan pun bersifat positif seperti, mengaji, kajian, dan yang paling penting melibatkan orang tua murid dibeberapa rangkaian acara sekolah sehingga ada rasa memiliki dan tanggung jawab dari orang tua terhadap sekolah untuk sama-sama mengarahkan sekolah kearah yang lebih baik. Dari sisi murid, betapa senangnya saya setiap hari selalu ditanya “miss Dessy hari ini kita mau belajar apa? Mau ngapain?” membuat saya tertantang untuk terus menciptakan kegiatan yang menarik untuk anak. Terlebih kemarin saat saya main ke TKIT (setelah selesai masa PKM saya) murid TKIT Ibnu Sina berlari berebut salim kepada kami sambil menyerukan nama kami.

 

3.Mengedepankan moral dan lifeskill dibandingkan hanya mengejar akademis

   Anak usia dini tidak memerlukan prestasi akademis seperti bisa membaca, menulis atau berhitung saja, melainkan lebih kepada moral dan lifeskill untuk dirinya sendiri. Bagaimana cara mengajarkannya? Cukup dengan konsistensi guru yang bukan hanya sekedar mengajar, melainkan mendidik dengan pola “asah, asih, asuh” seperti yang diterapkan di TKIT Ibnu Sina. Mendidik tentu berbeda dengan mengajar. Mendidik adalah mengarahkan seseorang kearah yang lebih baik. Terlihat kemajuan Falisha dari yang tadinya sangat bergantung pada gurunya, kini mulai berani mengerjakan segala kebutuhannya sendiri. Kemudian Haura yang kurang tertarik dengan hidup bersosialisasi, kini ramah mengucap salam terlebih dahulu. Lalu Nanda yang tingkat egosentrisnya melebihi batas usianya, secara perlahan mau bertanggung jawab atas kebutuhan dirinya sendiri seperti, dll. Terdengar sepele, namun butuh konsistensi untuk membangun moral dan mendidik murid dengan kebutuhannya masing-masing. Apa yang ditanamkan oleh guru TKIT Ibnu Sina merupakan investasi yang baru bisa dipetik di masa yang akan datang.

 

4.Konsisten dalam menerapkan kebiasaan baik

  Guru TKIT Ibnu Sina sangat konsisten menerapkan (memberi contoh), mengingatkan, dan menyemangati agar anak menjalankan kebiasaan baik yang telah ditetapkan sekolah. Seperti makan dan minum sambil duduk, cuci tangan dengan cara yang benar sebelum makan, antre disegala kesempatan, piring berbagi harus diisi sebelum dimakan, mengucap salam, mengatakan kata tolong terimakasih dan maaf, dll. Sangat kecil, tapi percayalah dampaknya sangat besar untuk moralnya karena sesuatu yang dilakukan setiap hari secara konsisten akan menjadi sebuah kebiasaan. Tergantung kita mau mengisinya dengan kebiasaan yang baik atau buruk.

 

5.Sistem yang teratur; reward and punishment yang mendidik

   Sistem yang baik menghasilkan pola yang baik pula. Reward dan punishment merupakan hal yang tidak boleh tertinggal dalam lembaga pendidikan anak, namun harus hati-hati dalam menentukannya, karena salah-salah bisa berakibat fatal. Anak sangat butuh reward, namun jangan sampai menciptakan pola pikir murid bahwa “ia tidak akan melakukan tugasnya, kalau tidak mendapat reward tersebut”. Maka dari itu penentuan reward harus nyata, bukan hanya dari ucapan, namun bukan juga hadiah yang diberikan secara mudah. Sangat tepat pemilihan reward berupa pernak-pernik sekolah untuk anak, dan yang lebih tepatnya lagi reward baru bisa didapatkan setelah anak mengumpulkan stiker reward yang harus dikumpulkan sebanyak yang telah ditentukan dengan berperilaku baik. Anak memiliki mindset jika ia berperilaku baik, maka ia dapat mengumpulkan kebaikan tersebut untuk mendapatkan reward. Hal ini mengajarkan begin with the end in mind dengan syarat utamanya bermoral baik.

 

    Kemudian punishment seperti meminta maaf atau beristighfar yang tidak diberikan dengan amarah dari gurunya, melainkan dengan kesabaran dari sosok guru. Hal ini membuat anak langsung sadar beristighfar jika guru mengingatkan bahwa anak tersebut telah berbuat salah.

 

    Yang perlu diperbaiki dari TKIT Ibnu Sina hanya prasarana saja, seperti karpet yang sudah bolong, kamar mandi khusus anak, merapihkan sudut tembok dengan wallpaper yang lebih baik, jangan dengan kertas kado, hal tersebut membuat terkesan kurang rapi dilihat. Bukan sesuatu yang besar, karena yang terpenting adalah bagaimana sistem dibangun dan dijalankan, dan hal tersebut sudah berjalan baik di TKIT Ibnu Sina.